BRID

Blogger Reporter Indonesia

Senin, 05 Februari 2018

PENDIDIKAN HEBAT DI FINLANDIA

Pendidikan di Finlandia Finlandia adalah "cuma" contoh ttg bgmn suatu negara bisa berhasil membuat visi pendidikan dan 'maujud' dlm proses pendidikan. Visi2nya nampak pd perencanaan, proses teknis, sumber daya, dan evaluasinya. Dalam konteks pembelajaran, mestinya tdk ada resistensi. Saya 'share' : 11 Cara Finlandia Mengajarkan bahwa Less is More dalam pendidikan (terjemah bebas) 1. Less formal schooling Sekolah dimulai saat anak berusia tujuh tahun, yaitu saat mereka mampu untuk fokus dan siap untuk belajar. Sebelum usia tujuh tahun, anak dibiarkan menikmati kehidupannya sebagai anak-anak. Saat usia mereka 16 tahun, mereka memiliki tiga pilihan: pertama masuk ke sekolah selama tiga tahun untuk persiapan kuliah yang dipilih oleh kurang dari 40%, vocational education semacam sekolah menuju jenjang karir tertentu yang dipilih oleh kurang dari 60%, terakhir ada yang memilih langsung bekerja yaitu kurang dari 5%. 2. Waktu yang dihabiskan di sekolah minim = banyak istirahat Kelas dimulai pukul 9.00 dan 9.45, ini dikarenakan menurut penelitian anak anak membutuhkan tidur yang berkualitas di pagi hari (yes please). Sekolah berakhir pada pukul 2.00 atau 2.45. Setiap hari mereka memiliki tiga sampai empat jam pelajaran, setiap jam pelajaran adalah 75 menit, ada istirahat di antara pergantian jam-jam tersebut. 3. Fewer instruction hours = more planning time Rata-rata guru di Finlandia mengajar empat jam sehari atau 600 jam per tahun, guru tidak harus semua datang pada satu waktu. Kalau jadwal mengajar pukul 11.00 maka guru tersebut tidak perlu datang sedari pagi. Waktu sebelum mengajar dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan bahan mengajar dengan lebih baik. 4. Guru lebih sedikit = More Consistent and Care Dalam setiap kelas yang jumlahnya 15-20 anak, gurunya tidak berubah selama mereka SD. Jadi gurunya sama sampai mereka lulus. Guru mampu mengetahui kebutuhkan pendidikan setiap anak, gaya belajar mereka, dan memiliki keinginan untuk melihat anak anak tersebut sukses yang sesuai untuk masing-masing anak. Jadi guru mampu melihat kurikulum secara holistik, mereka tidak risau untuk menghabiskan materi tahun ini karena mereka pula yang akan mengajar tahun seterusnya. Di sinilah guru mampu menyesuaikan ritme belajar sesuai kemampuan masing-masing anak. 5. Guru yang diterima sedikit = Percaya diri guru lebih tinggi Bagaimana kalau ada guru yang jelek selama enam tahun? Finlandia berusaha sangat keras untuk memastikan guru SD bermutu. FYI, Primary education (kuliah untuk menjadi guru SD) adalah sarjana yang paling kompetitiv masuknya. Hanya ada 10% yang diterima masuk ke jenjang tersebut dan yang lainnya ditolak tiap tahunnya. Seseorang yang diterima tidak hanya yang paling pandai dan pintar tapi juga melalui tes wawancara dan kepribadian . Jadi tidak hanya pintar tapi guru tersebut juga memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk mengemban pelajaran.Orang tua wali murid sendiri sangat respect dan percaya dengan guru seperti ini karena mereka tidak hanya mampu secara akademis namun juga “gifted”. Sampai bila ditanya guru tersebut hanya mendapatkan lima sampai enam email per semester, dibandingkan di US guru setiap hari menerima lima sampai enam email. 6. Jam pelajaran lebih sedikit = istirahat lebih banyak Istirahat disela jam pelajaran merupakan waktu di mana anak-anak menyerap pembelajaran tersebut. Mereka meregangkan otot, memakan snek, menghirup udara segar, dll. Biasanya waktu istirahat ini adalah 15-20 menit. Penelitian menemukan bahwa anak-anak membutuhkan gerak fisik untuk belajar di kelas. Bila tubuh berhenti bergerak (duduk terlalu lama, stagnan) maka otak juga stagnan, tidak mampu fokus dan anak menjadi hiperaktif. Tidak hanya murid yang istirahat, tapi guru juga istirahat. Ruang guru terdiri dari sofa, dapur, mesin pembuat kopi, snek, buah, kursi dan meja meja di mana guru bisa istirahat, mengobrol, dan mempersiapkan bahan mengajar untuk kelas selanjutnya. Malahan ada ruang guru yang lengkap dengan kursi pijat juga 7. Less Testing = more learning Kalau guru tidak dihantui dengan tes dan tes, maka guru mampu mendesain pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan. Dalam kelas menjahit ada unsur belajar matematika, menggambar pola, dll. Guru diberi amanah untuk bekerja mentransfer ilmu secara lebih baik. Mereka mampu membimbing anak mengerjakan yang dia suka, bagaimana memulai suatu proyek sederhana, dan memberi guidline untuk mengerjakan proyek tersebut. 8. Fewer topic = More depth Alih-alih berkeinginan mengajar banyak tema/bab dalam satu waktu, Finlandia menyederhanakan tema tersebut menjadi hanya beberapa. Guru di sana take their time untuk mengajar bab tersebut, tidak panik kalau lambat atau ada bab yang ketinggalan. There is no need to rush simply because there is no test! Itulah mengapa kalau kebanyakan bab yang anak dipaksa harus cepat belajar, maka mereka akan mudah menyerah, panik, dan stres. Ya stres! 9. PR Sedikit = partisipasi lebih banyak Kalaupun ada PR maka bisa dikerjakan dalam waktu 30 menit dan kebanyakan tugas diselesaikan di sekolah. Mereka juga tidak memiliki tambahan pelajaran seperti les atau cram school seperti di kebanyakan negara Asia. Namun mereka mampu mengungguli skor performance negara Asia yang memiliki sistem les sepulang sekolah. Walau begitu anak Finlandia siap menerima tugas di kelas, menyelesaikan tugas tersebut sepenuh hati, dan semacam ada peraturan tidak tertulis “selesaikan di sekolah maka tidak ada pekerjaan di rumah”. Guru juga tidak menjejali dengan kerja ekstra, intinya asalkan mereka memahami konsep, maka bagus mengerjakan pekerjaan tambahan, pekerjaan tambahan itu ada juga yang tidak dinilai tapi anak-anak tetap mengerjakannya dengan baik. 10. Sedikit siswa = banyak perhatian Membayangkan satu guru mengajar 4 jam perlajaran, di kelas yang berbeda, setiap kelas isina 20 anak. Maka guru tersebut per hari menjumpai 80 anak yg berbeda. 11. Less structure = more trust Dari pada fokus pada struktur, tes, dll. Finlandia mempercayai sistemnya dan melihat apakah berhasil. Masyarakat percaya pemerintah akan menyaring guru yang bermutu, dan memberikan kebebasan mereka untuk berkarya. Wali murid percaya guru akan membuat keputusan supaya anak mencapai keberhasilan. Guru percaya bahwa muridnya akan melakukan pekerjaannya agar mereka mampu belajar. Pelajar percaya bahwa gurunya akan memberikan bahan yang tepat untuk membuat mereka berhasil. Masyarakat menghargai sistem tersebut dan memberikan penghargaan pada pendidikan. (https://dzikrina22.wordpress.com/2015/04/25/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/) sumber aslinya : http://fillingmymap.com/2015/04/15/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/

PENDIDIKAN HEBAT DI FINLANDIA

Pendidikan di Finlandia Finlandia adalah "cuma" contoh ttg bgmn suatu negara bisa berhasil membuat visi pendidikan dan 'maujud' dlm proses pendidikan. Visi2nya nampak pd perencanaan, proses teknis, sumber daya, dan evaluasinya. Dalam konteks pembelajaran, mestinya tdk ada resistensi. Saya 'share' : 11 Cara Finlandia Mengajarkan bahwa Less is More dalam pendidikan (terjemah bebas) 1. Less formal schooling Sekolah dimulai saat anak berusia tujuh tahun, yaitu saat mereka mampu untuk fokus dan siap untuk belajar. Sebelum usia tujuh tahun, anak dibiarkan menikmati kehidupannya sebagai anak-anak. Saat usia mereka 16 tahun, mereka memiliki tiga pilihan: pertama masuk ke sekolah selama tiga tahun untuk persiapan kuliah yang dipilih oleh kurang dari 40%, vocational education semacam sekolah menuju jenjang karir tertentu yang dipilih oleh kurang dari 60%, terakhir ada yang memilih langsung bekerja yaitu kurang dari 5%. 2. Waktu yang dihabiskan di sekolah minim = banyak istirahat Kelas dimulai pukul 9.00 dan 9.45, ini dikarenakan menurut penelitian anak anak membutuhkan tidur yang berkualitas di pagi hari (yes please). Sekolah berakhir pada pukul 2.00 atau 2.45. Setiap hari mereka memiliki tiga sampai empat jam pelajaran, setiap jam pelajaran adalah 75 menit, ada istirahat di antara pergantian jam-jam tersebut. 3. Fewer instruction hours = more planning time Rata-rata guru di Finlandia mengajar empat jam sehari atau 600 jam per tahun, guru tidak harus semua datang pada satu waktu. Kalau jadwal mengajar pukul 11.00 maka guru tersebut tidak perlu datang sedari pagi. Waktu sebelum mengajar dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan bahan mengajar dengan lebih baik. 4. Guru lebih sedikit = More Consistent and Care Dalam setiap kelas yang jumlahnya 15-20 anak, gurunya tidak berubah selama mereka SD. Jadi gurunya sama sampai mereka lulus. Guru mampu mengetahui kebutuhkan pendidikan setiap anak, gaya belajar mereka, dan memiliki keinginan untuk melihat anak anak tersebut sukses yang sesuai untuk masing-masing anak. Jadi guru mampu melihat kurikulum secara holistik, mereka tidak risau untuk menghabiskan materi tahun ini karena mereka pula yang akan mengajar tahun seterusnya. Di sinilah guru mampu menyesuaikan ritme belajar sesuai kemampuan masing-masing anak. 5. Guru yang diterima sedikit = Percaya diri guru lebih tinggi Bagaimana kalau ada guru yang jelek selama enam tahun? Finlandia berusaha sangat keras untuk memastikan guru SD bermutu. FYI, Primary education (kuliah untuk menjadi guru SD) adalah sarjana yang paling kompetitiv masuknya. Hanya ada 10% yang diterima masuk ke jenjang tersebut dan yang lainnya ditolak tiap tahunnya. Seseorang yang diterima tidak hanya yang paling pandai dan pintar tapi juga melalui tes wawancara dan kepribadian . Jadi tidak hanya pintar tapi guru tersebut juga memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk mengemban pelajaran.Orang tua wali murid sendiri sangat respect dan percaya dengan guru seperti ini karena mereka tidak hanya mampu secara akademis namun juga “gifted”. Sampai bila ditanya guru tersebut hanya mendapatkan lima sampai enam email per semester, dibandingkan di US guru setiap hari menerima lima sampai enam email. 6. Jam pelajaran lebih sedikit = istirahat lebih banyak Istirahat disela jam pelajaran merupakan waktu di mana anak-anak menyerap pembelajaran tersebut. Mereka meregangkan otot, memakan snek, menghirup udara segar, dll. Biasanya waktu istirahat ini adalah 15-20 menit. Penelitian menemukan bahwa anak-anak membutuhkan gerak fisik untuk belajar di kelas. Bila tubuh berhenti bergerak (duduk terlalu lama, stagnan) maka otak juga stagnan, tidak mampu fokus dan anak menjadi hiperaktif. Tidak hanya murid yang istirahat, tapi guru juga istirahat. Ruang guru terdiri dari sofa, dapur, mesin pembuat kopi, snek, buah, kursi dan meja meja di mana guru bisa istirahat, mengobrol, dan mempersiapkan bahan mengajar untuk kelas selanjutnya. Malahan ada ruang guru yang lengkap dengan kursi pijat juga 7. Less Testing = more learning Kalau guru tidak dihantui dengan tes dan tes, maka guru mampu mendesain pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan. Dalam kelas menjahit ada unsur belajar matematika, menggambar pola, dll. Guru diberi amanah untuk bekerja mentransfer ilmu secara lebih baik. Mereka mampu membimbing anak mengerjakan yang dia suka, bagaimana memulai suatu proyek sederhana, dan memberi guidline untuk mengerjakan proyek tersebut. 8. Fewer topic = More depth Alih-alih berkeinginan mengajar banyak tema/bab dalam satu waktu, Finlandia menyederhanakan tema tersebut menjadi hanya beberapa. Guru di sana take their time untuk mengajar bab tersebut, tidak panik kalau lambat atau ada bab yang ketinggalan. There is no need to rush simply because there is no test! Itulah mengapa kalau kebanyakan bab yang anak dipaksa harus cepat belajar, maka mereka akan mudah menyerah, panik, dan stres. Ya stres! 9. PR Sedikit = partisipasi lebih banyak Kalaupun ada PR maka bisa dikerjakan dalam waktu 30 menit dan kebanyakan tugas diselesaikan di sekolah. Mereka juga tidak memiliki tambahan pelajaran seperti les atau cram school seperti di kebanyakan negara Asia. Namun mereka mampu mengungguli skor performance negara Asia yang memiliki sistem les sepulang sekolah. Walau begitu anak Finlandia siap menerima tugas di kelas, menyelesaikan tugas tersebut sepenuh hati, dan semacam ada peraturan tidak tertulis “selesaikan di sekolah maka tidak ada pekerjaan di rumah”. Guru juga tidak menjejali dengan kerja ekstra, intinya asalkan mereka memahami konsep, maka bagus mengerjakan pekerjaan tambahan, pekerjaan tambahan itu ada juga yang tidak dinilai tapi anak-anak tetap mengerjakannya dengan baik. 10. Sedikit siswa = banyak perhatian Membayangkan satu guru mengajar 4 jam perlajaran, di kelas yang berbeda, setiap kelas isina 20 anak. Maka guru tersebut per hari menjumpai 80 anak yg berbeda. 11. Less structure = more trust Dari pada fokus pada struktur, tes, dll. Finlandia mempercayai sistemnya dan melihat apakah berhasil. Masyarakat percaya pemerintah akan menyaring guru yang bermutu, dan memberikan kebebasan mereka untuk berkarya. Wali murid percaya guru akan membuat keputusan supaya anak mencapai keberhasilan. Guru percaya bahwa muridnya akan melakukan pekerjaannya agar mereka mampu belajar. Pelajar percaya bahwa gurunya akan memberikan bahan yang tepat untuk membuat mereka berhasil. Masyarakat menghargai sistem tersebut dan memberikan penghargaan pada pendidikan. (https://dzikrina22.wordpress.com/2015/04/25/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/) sumber aslinya : http://fillingmymap.com/2015/04/15/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/

PENDIDIKAN HEBAT DI FINLANDIA

Pendidikan di Finlandia Finlandia adalah "cuma" contoh ttg bgmn suatu negara bisa berhasil membuat visi pendidikan dan 'maujud' dlm proses pendidikan. Visi2nya nampak pd perencanaan, proses teknis, sumber daya, dan evaluasinya. Dalam konteks pembelajaran, mestinya tdk ada resistensi. Saya 'share' : 11 Cara Finlandia Mengajarkan bahwa Less is More dalam pendidikan (terjemah bebas) 1. Less formal schooling Sekolah dimulai saat anak berusia tujuh tahun, yaitu saat mereka mampu untuk fokus dan siap untuk belajar. Sebelum usia tujuh tahun, anak dibiarkan menikmati kehidupannya sebagai anak-anak. Saat usia mereka 16 tahun, mereka memiliki tiga pilihan: pertama masuk ke sekolah selama tiga tahun untuk persiapan kuliah yang dipilih oleh kurang dari 40%, vocational education semacam sekolah menuju jenjang karir tertentu yang dipilih oleh kurang dari 60%, terakhir ada yang memilih langsung bekerja yaitu kurang dari 5%. 2. Waktu yang dihabiskan di sekolah minim = banyak istirahat Kelas dimulai pukul 9.00 dan 9.45, ini dikarenakan menurut penelitian anak anak membutuhkan tidur yang berkualitas di pagi hari (yes please). Sekolah berakhir pada pukul 2.00 atau 2.45. Setiap hari mereka memiliki tiga sampai empat jam pelajaran, setiap jam pelajaran adalah 75 menit, ada istirahat di antara pergantian jam-jam tersebut. 3. Fewer instruction hours = more planning time Rata-rata guru di Finlandia mengajar empat jam sehari atau 600 jam per tahun, guru tidak harus semua datang pada satu waktu. Kalau jadwal mengajar pukul 11.00 maka guru tersebut tidak perlu datang sedari pagi. Waktu sebelum mengajar dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan bahan mengajar dengan lebih baik. 4. Guru lebih sedikit = More Consistent and Care Dalam setiap kelas yang jumlahnya 15-20 anak, gurunya tidak berubah selama mereka SD. Jadi gurunya sama sampai mereka lulus. Guru mampu mengetahui kebutuhkan pendidikan setiap anak, gaya belajar mereka, dan memiliki keinginan untuk melihat anak anak tersebut sukses yang sesuai untuk masing-masing anak. Jadi guru mampu melihat kurikulum secara holistik, mereka tidak risau untuk menghabiskan materi tahun ini karena mereka pula yang akan mengajar tahun seterusnya. Di sinilah guru mampu menyesuaikan ritme belajar sesuai kemampuan masing-masing anak. 5. Guru yang diterima sedikit = Percaya diri guru lebih tinggi Bagaimana kalau ada guru yang jelek selama enam tahun? Finlandia berusaha sangat keras untuk memastikan guru SD bermutu. FYI, Primary education (kuliah untuk menjadi guru SD) adalah sarjana yang paling kompetitiv masuknya. Hanya ada 10% yang diterima masuk ke jenjang tersebut dan yang lainnya ditolak tiap tahunnya. Seseorang yang diterima tidak hanya yang paling pandai dan pintar tapi juga melalui tes wawancara dan kepribadian . Jadi tidak hanya pintar tapi guru tersebut juga memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk mengemban pelajaran.Orang tua wali murid sendiri sangat respect dan percaya dengan guru seperti ini karena mereka tidak hanya mampu secara akademis namun juga “gifted”. Sampai bila ditanya guru tersebut hanya mendapatkan lima sampai enam email per semester, dibandingkan di US guru setiap hari menerima lima sampai enam email. 6. Jam pelajaran lebih sedikit = istirahat lebih banyak Istirahat disela jam pelajaran merupakan waktu di mana anak-anak menyerap pembelajaran tersebut. Mereka meregangkan otot, memakan snek, menghirup udara segar, dll. Biasanya waktu istirahat ini adalah 15-20 menit. Penelitian menemukan bahwa anak-anak membutuhkan gerak fisik untuk belajar di kelas. Bila tubuh berhenti bergerak (duduk terlalu lama, stagnan) maka otak juga stagnan, tidak mampu fokus dan anak menjadi hiperaktif. Tidak hanya murid yang istirahat, tapi guru juga istirahat. Ruang guru terdiri dari sofa, dapur, mesin pembuat kopi, snek, buah, kursi dan meja meja di mana guru bisa istirahat, mengobrol, dan mempersiapkan bahan mengajar untuk kelas selanjutnya. Malahan ada ruang guru yang lengkap dengan kursi pijat juga 7. Less Testing = more learning Kalau guru tidak dihantui dengan tes dan tes, maka guru mampu mendesain pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan. Dalam kelas menjahit ada unsur belajar matematika, menggambar pola, dll. Guru diberi amanah untuk bekerja mentransfer ilmu secara lebih baik. Mereka mampu membimbing anak mengerjakan yang dia suka, bagaimana memulai suatu proyek sederhana, dan memberi guidline untuk mengerjakan proyek tersebut. 8. Fewer topic = More depth Alih-alih berkeinginan mengajar banyak tema/bab dalam satu waktu, Finlandia menyederhanakan tema tersebut menjadi hanya beberapa. Guru di sana take their time untuk mengajar bab tersebut, tidak panik kalau lambat atau ada bab yang ketinggalan. There is no need to rush simply because there is no test! Itulah mengapa kalau kebanyakan bab yang anak dipaksa harus cepat belajar, maka mereka akan mudah menyerah, panik, dan stres. Ya stres! 9. PR Sedikit = partisipasi lebih banyak Kalaupun ada PR maka bisa dikerjakan dalam waktu 30 menit dan kebanyakan tugas diselesaikan di sekolah. Mereka juga tidak memiliki tambahan pelajaran seperti les atau cram school seperti di kebanyakan negara Asia. Namun mereka mampu mengungguli skor performance negara Asia yang memiliki sistem les sepulang sekolah. Walau begitu anak Finlandia siap menerima tugas di kelas, menyelesaikan tugas tersebut sepenuh hati, dan semacam ada peraturan tidak tertulis “selesaikan di sekolah maka tidak ada pekerjaan di rumah”. Guru juga tidak menjejali dengan kerja ekstra, intinya asalkan mereka memahami konsep, maka bagus mengerjakan pekerjaan tambahan, pekerjaan tambahan itu ada juga yang tidak dinilai tapi anak-anak tetap mengerjakannya dengan baik. 10. Sedikit siswa = banyak perhatian Membayangkan satu guru mengajar 4 jam perlajaran, di kelas yang berbeda, setiap kelas isina 20 anak. Maka guru tersebut per hari menjumpai 80 anak yg berbeda. 11. Less structure = more trust Dari pada fokus pada struktur, tes, dll. Finlandia mempercayai sistemnya dan melihat apakah berhasil. Masyarakat percaya pemerintah akan menyaring guru yang bermutu, dan memberikan kebebasan mereka untuk berkarya. Wali murid percaya guru akan membuat keputusan supaya anak mencapai keberhasilan. Guru percaya bahwa muridnya akan melakukan pekerjaannya agar mereka mampu belajar. Pelajar percaya bahwa gurunya akan memberikan bahan yang tepat untuk membuat mereka berhasil. Masyarakat menghargai sistem tersebut dan memberikan penghargaan pada pendidikan. (https://dzikrina22.wordpress.com/2015/04/25/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/) sumber aslinya : http://fillingmymap.com/2015/04/15/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/

PENDIDIKAN HEBAT DI FINLANDIA

Pendidikan di Finlandia Finlandia adalah "cuma" contoh ttg bgmn suatu negara bisa berhasil membuat visi pendidikan dan 'maujud' dlm proses pendidikan. Visi2nya nampak pd perencanaan, proses teknis, sumber daya, dan evaluasinya. Dalam konteks pembelajaran, mestinya tdk ada resistensi. Saya 'share' : 11 Cara Finlandia Mengajarkan bahwa Less is More dalam pendidikan (terjemah bebas) 1. Less formal schooling Sekolah dimulai saat anak berusia tujuh tahun, yaitu saat mereka mampu untuk fokus dan siap untuk belajar. Sebelum usia tujuh tahun, anak dibiarkan menikmati kehidupannya sebagai anak-anak. Saat usia mereka 16 tahun, mereka memiliki tiga pilihan: pertama masuk ke sekolah selama tiga tahun untuk persiapan kuliah yang dipilih oleh kurang dari 40%, vocational education semacam sekolah menuju jenjang karir tertentu yang dipilih oleh kurang dari 60%, terakhir ada yang memilih langsung bekerja yaitu kurang dari 5%. 2. Waktu yang dihabiskan di sekolah minim = banyak istirahat Kelas dimulai pukul 9.00 dan 9.45, ini dikarenakan menurut penelitian anak anak membutuhkan tidur yang berkualitas di pagi hari (yes please). Sekolah berakhir pada pukul 2.00 atau 2.45. Setiap hari mereka memiliki tiga sampai empat jam pelajaran, setiap jam pelajaran adalah 75 menit, ada istirahat di antara pergantian jam-jam tersebut. 3. Fewer instruction hours = more planning time Rata-rata guru di Finlandia mengajar empat jam sehari atau 600 jam per tahun, guru tidak harus semua datang pada satu waktu. Kalau jadwal mengajar pukul 11.00 maka guru tersebut tidak perlu datang sedari pagi. Waktu sebelum mengajar dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan bahan mengajar dengan lebih baik. 4. Guru lebih sedikit = More Consistent and Care Dalam setiap kelas yang jumlahnya 15-20 anak, gurunya tidak berubah selama mereka SD. Jadi gurunya sama sampai mereka lulus. Guru mampu mengetahui kebutuhkan pendidikan setiap anak, gaya belajar mereka, dan memiliki keinginan untuk melihat anak anak tersebut sukses yang sesuai untuk masing-masing anak. Jadi guru mampu melihat kurikulum secara holistik, mereka tidak risau untuk menghabiskan materi tahun ini karena mereka pula yang akan mengajar tahun seterusnya. Di sinilah guru mampu menyesuaikan ritme belajar sesuai kemampuan masing-masing anak. 5. Guru yang diterima sedikit = Percaya diri guru lebih tinggi Bagaimana kalau ada guru yang jelek selama enam tahun? Finlandia berusaha sangat keras untuk memastikan guru SD bermutu. FYI, Primary education (kuliah untuk menjadi guru SD) adalah sarjana yang paling kompetitiv masuknya. Hanya ada 10% yang diterima masuk ke jenjang tersebut dan yang lainnya ditolak tiap tahunnya. Seseorang yang diterima tidak hanya yang paling pandai dan pintar tapi juga melalui tes wawancara dan kepribadian . Jadi tidak hanya pintar tapi guru tersebut juga memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk mengemban pelajaran.Orang tua wali murid sendiri sangat respect dan percaya dengan guru seperti ini karena mereka tidak hanya mampu secara akademis namun juga “gifted”. Sampai bila ditanya guru tersebut hanya mendapatkan lima sampai enam email per semester, dibandingkan di US guru setiap hari menerima lima sampai enam email. 6. Jam pelajaran lebih sedikit = istirahat lebih banyak Istirahat disela jam pelajaran merupakan waktu di mana anak-anak menyerap pembelajaran tersebut. Mereka meregangkan otot, memakan snek, menghirup udara segar, dll. Biasanya waktu istirahat ini adalah 15-20 menit. Penelitian menemukan bahwa anak-anak membutuhkan gerak fisik untuk belajar di kelas. Bila tubuh berhenti bergerak (duduk terlalu lama, stagnan) maka otak juga stagnan, tidak mampu fokus dan anak menjadi hiperaktif. Tidak hanya murid yang istirahat, tapi guru juga istirahat. Ruang guru terdiri dari sofa, dapur, mesin pembuat kopi, snek, buah, kursi dan meja meja di mana guru bisa istirahat, mengobrol, dan mempersiapkan bahan mengajar untuk kelas selanjutnya. Malahan ada ruang guru yang lengkap dengan kursi pijat juga 7. Less Testing = more learning Kalau guru tidak dihantui dengan tes dan tes, maka guru mampu mendesain pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan. Dalam kelas menjahit ada unsur belajar matematika, menggambar pola, dll. Guru diberi amanah untuk bekerja mentransfer ilmu secara lebih baik. Mereka mampu membimbing anak mengerjakan yang dia suka, bagaimana memulai suatu proyek sederhana, dan memberi guidline untuk mengerjakan proyek tersebut. 8. Fewer topic = More depth Alih-alih berkeinginan mengajar banyak tema/bab dalam satu waktu, Finlandia menyederhanakan tema tersebut menjadi hanya beberapa. Guru di sana take their time untuk mengajar bab tersebut, tidak panik kalau lambat atau ada bab yang ketinggalan. There is no need to rush simply because there is no test! Itulah mengapa kalau kebanyakan bab yang anak dipaksa harus cepat belajar, maka mereka akan mudah menyerah, panik, dan stres. Ya stres! 9. PR Sedikit = partisipasi lebih banyak Kalaupun ada PR maka bisa dikerjakan dalam waktu 30 menit dan kebanyakan tugas diselesaikan di sekolah. Mereka juga tidak memiliki tambahan pelajaran seperti les atau cram school seperti di kebanyakan negara Asia. Namun mereka mampu mengungguli skor performance negara Asia yang memiliki sistem les sepulang sekolah. Walau begitu anak Finlandia siap menerima tugas di kelas, menyelesaikan tugas tersebut sepenuh hati, dan semacam ada peraturan tidak tertulis “selesaikan di sekolah maka tidak ada pekerjaan di rumah”. Guru juga tidak menjejali dengan kerja ekstra, intinya asalkan mereka memahami konsep, maka bagus mengerjakan pekerjaan tambahan, pekerjaan tambahan itu ada juga yang tidak dinilai tapi anak-anak tetap mengerjakannya dengan baik. 10. Sedikit siswa = banyak perhatian Membayangkan satu guru mengajar 4 jam perlajaran, di kelas yang berbeda, setiap kelas isina 20 anak. Maka guru tersebut per hari menjumpai 80 anak yg berbeda. 11. Less structure = more trust Dari pada fokus pada struktur, tes, dll. Finlandia mempercayai sistemnya dan melihat apakah berhasil. Masyarakat percaya pemerintah akan menyaring guru yang bermutu, dan memberikan kebebasan mereka untuk berkarya. Wali murid percaya guru akan membuat keputusan supaya anak mencapai keberhasilan. Guru percaya bahwa muridnya akan melakukan pekerjaannya agar mereka mampu belajar. Pelajar percaya bahwa gurunya akan memberikan bahan yang tepat untuk membuat mereka berhasil. Masyarakat menghargai sistem tersebut dan memberikan penghargaan pada pendidikan. (https://dzikrina22.wordpress.com/2015/04/25/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/) sumber aslinya : http://fillingmymap.com/2015/04/15/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/

KHITAH ISLAM NUSANTARA

KHITAH ISLAM NUSANTARA kompas cetak 29/8/2015 Oleh : KH.Ma'ruf Amin* Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya.Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini. Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang yang digelar beberapa waktu lalu, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU. Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para mua'sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat. Tiga pilar Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah). Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika "al-jumûd 'alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi", pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU. Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jemaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis. Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan 'urf atau 'ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua. Penanda Islam Nusantara Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas. Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan. Ketiga, tatawwu'iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa. Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan. Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat. Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional. Ijtihad Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban. Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyin di sini misalnya adalah maslahah (kebaikan). Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: "idhã wujida nash fathamma maslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar' al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah". Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas. Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi. *Ma'ruf Amin Rais Aam Nahdhatul UlamaKetua Umum MUI

KHITAH ISLAM NUSANTARA

KHITAH ISLAM NUSANTARA kompas cetak 29/8/2015 Oleh : KH.Ma'ruf Amin* Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya.Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini. Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang yang digelar beberapa waktu lalu, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU. Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para mua'sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat. Tiga pilar Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah). Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika "al-jumûd 'alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi", pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU. Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jemaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis. Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan 'urf atau 'ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua. Penanda Islam Nusantara Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas. Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan. Ketiga, tatawwu'iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa. Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan. Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat. Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional. Ijtihad Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban. Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyin di sini misalnya adalah maslahah (kebaikan). Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: "idhã wujida nash fathamma maslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar' al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah". Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas. Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi. *Ma'ruf Amin Rais Aam Nahdhatul UlamaKetua Umum MUI
Jusuf AN Kalau ada yang mengatakan, "mukamu bid'ah", itu kok dianggap serius sampai dikupas dari segi bahasa dan syara' yo malah lebih ngguyoni. Kalau kamu nggak sepakat dengan amaliyah orang yang kamu anggap bid'ah, ya rapopo. Tapi mesti diingat, amaliyah yang kamu anggap bid'ah dhalalah itu didasari ilmu juga, dan masa' iya para alim-ulama bersepakat dalam kesesatan. Wislah, yaqin nggak ada rampungnya ngomongin kayak gitu. "Bertengkar itu semuanya jelek." Kata Ibn Mas'ud r.a