BRID

Blogger Reporter Indonesia

Jumat, 01 Februari 2019

KHITAH ISLAM NUSANTARA kompas cetak 29/8/2015 Oleh : KH.Ma'ruf Amin* Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya.Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini. Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang yang digelar beberapa waktu lalu, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU. Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para mua'sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat. Tiga pilar Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah). Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika "al-jumûd 'alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi", pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU. Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jemaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis. Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan 'urf atau 'ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua. Penanda Islam Nusantara Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas. Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan. Ketiga, tatawwu'iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa. Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan. Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat. Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional. Ijtihad Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban. Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyin di sini misalnya adalah maslahah (kebaikan). Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: "idhã wujida nash fathamma maslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar' al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah". Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas. Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi. *Ma'ruf Amin Rais Aam Nahdhatul UlamaKetua Umum MUI

Perilaku hewan yang bisa dipelajari misalnya Rat Race dan Buaya

Senin, 05 Februari 2018

PENDIDIKAN HEBAT DI FINLANDIA

Pendidikan di Finlandia Finlandia adalah "cuma" contoh ttg bgmn suatu negara bisa berhasil membuat visi pendidikan dan 'maujud' dlm proses pendidikan. Visi2nya nampak pd perencanaan, proses teknis, sumber daya, dan evaluasinya. Dalam konteks pembelajaran, mestinya tdk ada resistensi. Saya 'share' : 11 Cara Finlandia Mengajarkan bahwa Less is More dalam pendidikan (terjemah bebas) 1. Less formal schooling Sekolah dimulai saat anak berusia tujuh tahun, yaitu saat mereka mampu untuk fokus dan siap untuk belajar. Sebelum usia tujuh tahun, anak dibiarkan menikmati kehidupannya sebagai anak-anak. Saat usia mereka 16 tahun, mereka memiliki tiga pilihan: pertama masuk ke sekolah selama tiga tahun untuk persiapan kuliah yang dipilih oleh kurang dari 40%, vocational education semacam sekolah menuju jenjang karir tertentu yang dipilih oleh kurang dari 60%, terakhir ada yang memilih langsung bekerja yaitu kurang dari 5%. 2. Waktu yang dihabiskan di sekolah minim = banyak istirahat Kelas dimulai pukul 9.00 dan 9.45, ini dikarenakan menurut penelitian anak anak membutuhkan tidur yang berkualitas di pagi hari (yes please). Sekolah berakhir pada pukul 2.00 atau 2.45. Setiap hari mereka memiliki tiga sampai empat jam pelajaran, setiap jam pelajaran adalah 75 menit, ada istirahat di antara pergantian jam-jam tersebut. 3. Fewer instruction hours = more planning time Rata-rata guru di Finlandia mengajar empat jam sehari atau 600 jam per tahun, guru tidak harus semua datang pada satu waktu. Kalau jadwal mengajar pukul 11.00 maka guru tersebut tidak perlu datang sedari pagi. Waktu sebelum mengajar dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan bahan mengajar dengan lebih baik. 4. Guru lebih sedikit = More Consistent and Care Dalam setiap kelas yang jumlahnya 15-20 anak, gurunya tidak berubah selama mereka SD. Jadi gurunya sama sampai mereka lulus. Guru mampu mengetahui kebutuhkan pendidikan setiap anak, gaya belajar mereka, dan memiliki keinginan untuk melihat anak anak tersebut sukses yang sesuai untuk masing-masing anak. Jadi guru mampu melihat kurikulum secara holistik, mereka tidak risau untuk menghabiskan materi tahun ini karena mereka pula yang akan mengajar tahun seterusnya. Di sinilah guru mampu menyesuaikan ritme belajar sesuai kemampuan masing-masing anak. 5. Guru yang diterima sedikit = Percaya diri guru lebih tinggi Bagaimana kalau ada guru yang jelek selama enam tahun? Finlandia berusaha sangat keras untuk memastikan guru SD bermutu. FYI, Primary education (kuliah untuk menjadi guru SD) adalah sarjana yang paling kompetitiv masuknya. Hanya ada 10% yang diterima masuk ke jenjang tersebut dan yang lainnya ditolak tiap tahunnya. Seseorang yang diterima tidak hanya yang paling pandai dan pintar tapi juga melalui tes wawancara dan kepribadian . Jadi tidak hanya pintar tapi guru tersebut juga memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk mengemban pelajaran.Orang tua wali murid sendiri sangat respect dan percaya dengan guru seperti ini karena mereka tidak hanya mampu secara akademis namun juga “gifted”. Sampai bila ditanya guru tersebut hanya mendapatkan lima sampai enam email per semester, dibandingkan di US guru setiap hari menerima lima sampai enam email. 6. Jam pelajaran lebih sedikit = istirahat lebih banyak Istirahat disela jam pelajaran merupakan waktu di mana anak-anak menyerap pembelajaran tersebut. Mereka meregangkan otot, memakan snek, menghirup udara segar, dll. Biasanya waktu istirahat ini adalah 15-20 menit. Penelitian menemukan bahwa anak-anak membutuhkan gerak fisik untuk belajar di kelas. Bila tubuh berhenti bergerak (duduk terlalu lama, stagnan) maka otak juga stagnan, tidak mampu fokus dan anak menjadi hiperaktif. Tidak hanya murid yang istirahat, tapi guru juga istirahat. Ruang guru terdiri dari sofa, dapur, mesin pembuat kopi, snek, buah, kursi dan meja meja di mana guru bisa istirahat, mengobrol, dan mempersiapkan bahan mengajar untuk kelas selanjutnya. Malahan ada ruang guru yang lengkap dengan kursi pijat juga 7. Less Testing = more learning Kalau guru tidak dihantui dengan tes dan tes, maka guru mampu mendesain pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan. Dalam kelas menjahit ada unsur belajar matematika, menggambar pola, dll. Guru diberi amanah untuk bekerja mentransfer ilmu secara lebih baik. Mereka mampu membimbing anak mengerjakan yang dia suka, bagaimana memulai suatu proyek sederhana, dan memberi guidline untuk mengerjakan proyek tersebut. 8. Fewer topic = More depth Alih-alih berkeinginan mengajar banyak tema/bab dalam satu waktu, Finlandia menyederhanakan tema tersebut menjadi hanya beberapa. Guru di sana take their time untuk mengajar bab tersebut, tidak panik kalau lambat atau ada bab yang ketinggalan. There is no need to rush simply because there is no test! Itulah mengapa kalau kebanyakan bab yang anak dipaksa harus cepat belajar, maka mereka akan mudah menyerah, panik, dan stres. Ya stres! 9. PR Sedikit = partisipasi lebih banyak Kalaupun ada PR maka bisa dikerjakan dalam waktu 30 menit dan kebanyakan tugas diselesaikan di sekolah. Mereka juga tidak memiliki tambahan pelajaran seperti les atau cram school seperti di kebanyakan negara Asia. Namun mereka mampu mengungguli skor performance negara Asia yang memiliki sistem les sepulang sekolah. Walau begitu anak Finlandia siap menerima tugas di kelas, menyelesaikan tugas tersebut sepenuh hati, dan semacam ada peraturan tidak tertulis “selesaikan di sekolah maka tidak ada pekerjaan di rumah”. Guru juga tidak menjejali dengan kerja ekstra, intinya asalkan mereka memahami konsep, maka bagus mengerjakan pekerjaan tambahan, pekerjaan tambahan itu ada juga yang tidak dinilai tapi anak-anak tetap mengerjakannya dengan baik. 10. Sedikit siswa = banyak perhatian Membayangkan satu guru mengajar 4 jam perlajaran, di kelas yang berbeda, setiap kelas isina 20 anak. Maka guru tersebut per hari menjumpai 80 anak yg berbeda. 11. Less structure = more trust Dari pada fokus pada struktur, tes, dll. Finlandia mempercayai sistemnya dan melihat apakah berhasil. Masyarakat percaya pemerintah akan menyaring guru yang bermutu, dan memberikan kebebasan mereka untuk berkarya. Wali murid percaya guru akan membuat keputusan supaya anak mencapai keberhasilan. Guru percaya bahwa muridnya akan melakukan pekerjaannya agar mereka mampu belajar. Pelajar percaya bahwa gurunya akan memberikan bahan yang tepat untuk membuat mereka berhasil. Masyarakat menghargai sistem tersebut dan memberikan penghargaan pada pendidikan. (https://dzikrina22.wordpress.com/2015/04/25/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/) sumber aslinya : http://fillingmymap.com/2015/04/15/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/
Jusuf AN Kalau ada yang mengatakan, "mukamu bid'ah", itu kok dianggap serius sampai dikupas dari segi bahasa dan syara' yo malah lebih ngguyoni. Kalau kamu nggak sepakat dengan amaliyah orang yang kamu anggap bid'ah, ya rapopo. Tapi mesti diingat, amaliyah yang kamu anggap bid'ah dhalalah itu didasari ilmu juga, dan masa' iya para alim-ulama bersepakat dalam kesesatan. Wislah, yaqin nggak ada rampungnya ngomongin kayak gitu. "Bertengkar itu semuanya jelek." Kata Ibn Mas'ud r.a

Jumat, 13 Oktober 2017

SEKILAS INFO

[INFO UNDANGAN]: "Obrolan Budaya" Omongan Budayo #KodeNusantara "Ada Apa dengan Kayon" Pembicara: Alvina Patricia Wijaya (Jejak Sains dalam Pohon Kehidupan Nusantara) -Juara Lomba Peneliti Belia Nasional 2016 -Timnas Indonesia untuk APCYS 2017 Hari: Sabtu Tanggal: 14 Okt 2017 Jam: 13.30-16.00 WIB Tempat: Sekretariat Sobat Budaya, Jl. Tebet Barat Dalam IV No. 6 Peta lokasi: bit.ly/SobatBudayaHQ Konfirmasi kehadiran: tiny.cc/omonganbudayo Narahubung: 08382883607 Ket: Undangan ini terbuka bagi siapa saja yang menyukai budaya. Tidak diwajibkan menulis atau post di social media, namun alangkah baiknya bila kita menyebarkan info budaya kepada masyarakat.... Undangan ini tidak memberikan fee. Tapi kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan networking.

Sabtu, 24 September 2016

Kota kita

CATATAN TENTANG KOTA DARI Rocky Gerung @rockygerung

Buat Bekal mikir sebelum memutuskan calon  penguasa mana yg memberi peluang terwujudnya  kehidupan kota yg adil dan beradab

1. Kota adalah ruang keadilan sosial. Bukan ruang legal semata #citizen
 
2. Kota adalah pemukiman. Bukan hunian. Ada nilai bersama. Bukan sekedar pembagian hak #citizen
 
3. Mutu kota bukan pada ketertiban, tapi pada solidaritas. #citizen
 
4. Kota yang kumuh harus ditata. Bukan digusur. #citizen
 
5. Pemkot tidak menata kota atas kehendaknya sendiri. Melainkan atas izin pemukimnya #citizen

6.Pemkot memperoleh legitimasi justru dari pemukimnya. Bukan dari kekuasaan politik atau kapital #citizen
 
8. Sejarah kota adalah sejarah para pemukim awal. Yang tentu saja "liar". Itullah asal usul warga #citizen
 
9. Pemkot memperoleh konsepsi kota dari para urbanis. Tapi baik Pemkot maupun urbanis memperoleh legitimacy dari pemukim. #citizen
 
10. Kota tak boleh diterangkan dengan argumen ekonomi. Kota adalah lokasi keadilan ekologi. #citizen
 
11.Banjir adalah bencana ekonomi bagi dunia bisnis. Tapi ia adalah logika ekologi yang sangat etis. #citizen
 
12. Hiduplah dengan banjir. Dirikan kotamu di atas banjir. Engkau dan banjir bukan paradoks. Begitulah kearifan ekologi. #citizen
 
13. Siklus ekologi hanya boleh kau hitung. Bukan kau atur. Itu perlunya pemkot yang cerdas, untuk menghasilkan kota yang cerdas. #citizen
 
14. Pakai otakmu untuk menghasilkan keadilan kota. Bukan pakai otak orang rakus. #citizen
 
15. Nikmati kotamu. Berbagilah ruang. Itu artinya menjadi warga. Selamat malam twips. #citizen

Jumat, 23 September 2016

Pesan Pak Anies Baswedan

Salam,

Melalui pesan singkat ini, saya menyampaikan rencana untuk mengikuti proses pemilihan Gubernur DKI Jakarta dengan kesadaran dan maksud baik untuk Jakarta dan Indonesia.

Sebagaimana pula yang sering kita ungkapkan bersama tentang pentingnya menjalani dan menjaga proses bernegara, tentang ikut melunasi janji kemerdekaan sesuai dengan kompetensi dan kesempatan yang tersedia, maka saya memilih menyatakan siap saat hadir sebuah kesempatan untuk ikut mewarnai arah pembangunan manusia dan masyarakat Kota Proklamasi ini.

Keterlibatan ini juga ditempuh dengan semangat agar aktivitas berdemokrasi tetap menjadi sebuah keceriaan bersama, kebahagiaan bersama. Kita jalankan Pilkada DKI ini sebagai festival gagasan dan karya, dengan maksud baik, dengan cara benar, dengan menjaga keberadaban.

Maka mari kita rayakan rangkaian Pilkada DKI ini sebagai peristiwa yang mulia, bersih, bermartabat, berbudaya, beradab, mencerminkan mozaik tenun kebangsaan kita, sekaligus dapat dinikmati segala keceriaan dan kegairahan di dalamnya.

Akhirnya, kami mohon doanya, mohon restunya, agar diberi kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan ikhtiar ini. Terima kasih.

Salam hangat,
Anies Baswedan

Rabu, 17 Agustus 2016

Tentang menulis di masa kini

Bisakah seorang penikmat visual atau generasi pembaca judul seperti sekarang menulis isi cerita atau menulis suatu karya dengan bermutu?
Karena karya tulis lahir dari kegemaran seseorang membaca, tulisan adalah hasil pengejawantahan otak dia selama membaca berbagai tulisan, mah bagaimana kalau yang dia baca selama ini adalah sekedar judul artikel (karena males mengklik link akibat kuota minim, atau takut terjebak situs abal-abal pencari klik) , juga sekedar sharing atau copas tulisan di WA (aplikasi chatting) , yang belakangan booming mengalahkan BBM.

Sabtu, 26 Maret 2016

Ijasah atau belajar?

Ijasah atau belajar

Di Jaman digital seperti ini belajar tidak lagi tergantung dengan ruang dan waktu, bisa kapan saja dan bisa di mana saja. Ketika itu sudah terjadi maka apa masih diperlukan selembar ijasah?

Sementara banyak di luar sana orang mengejar ijasah dengan berbagai cara, bahkan sampai menghalalkan segala cara. Dari cara kuliah di hari libur sampai cara yang bisa dipidana dengan istilahnya "nembak" gelar/titel. Mungkin saja ijasahnya aspal atau dapat mencetak di percetakan. Tapi apakah bisa membuktikan kemampuannya ketika diuji.

Terutama ketika menghadapi ujian penerimaan pegawai perusahaan atau uji ketrampilan untuk suatu profesi tertentu misalnya mengelas atau menjahit. akan terlihat kalau ijasah kursusnya palsu atau belum layak lulus kalau ketika dites memegang alatnya saja masih canggung.

Memang banyak sih yang terampil bahkan mumpuni dari hasil autodidak atau belajar sendiri dari pengalaman selama menekuni pekerjaan. Tapi sekali lagi dunia kerja masih mensyaratkan selembar sertifikat atau ijasah untuk menjadi bukti atau syarat administratif bagi suatu profesi.

Jadi bagaimana? Jadilah pengusaha atau pebisnis untuk usaha sendiri, dengan membuka bengkel las anda tidak perlu melampirkan ijasah las, dengan membuka tailor atau konpeksi anda juga tidak perlu mempersiapkan ijasah atau selembar sertifikat. Dengan layanan prima dan hasil yang bermutu dan memuaskan pelanggan. Insyaallah usaha anda maju dan anda bisa sukses bahkan kaya seperti Mark Zukerberg pendiri Facebook atau Bill Gates pendiri Microsoft yang DropOut Dari Harvard University.

Jadi jangan menyerah, teruslah belajar.

Kamis, 24 Desember 2015

Clara Sumarwati Wanita Asia Tenggara Pertama Penakluk Everest (1)

oleh
Mila Mulyanti Nurjanah Setelah nonoton Film Everest ternyata ditahun yang sama Indonesia menggapai Puncak tertinggi di dunia tersebut. Dalam tim tersebut ada satu orang wanita. Wanita Asia Tenggara Pertama Penakluk Everest (1) Clara Sumarwati (42) tahun 1996 berhasil mendaki puncak Everest berketinggian 8.848 mdpl. Dia menjadi wanita pertama di Asia Tenggara yang berhasil menggapai puncak tertinggi di dunia itu. Kini dia mengidap gangguan jiwa dan hari-harinya dijalani di rumah sakit jiwa Profesor Dokter Soeroyo Magelang (RSSM). LORONG sepi di rumah sakit jiwa itu menjadi kehidupan nyata bagi wanita pertama Indonesia yang menaklukkan gunung Everest. Bersama puluhan wanita lainnya harus mejalani rehabilitasi karena gangguan kejiwaan menyelimutinya. Wanita itu menghuni bangsal W3 atau Wisma Drupadi RSSM. Ketika Suara Merdeka mengunjunginya, Clara baru berada luar. Tak lama kemudian muncul wanita tinggi dan agak gemuk, rambutnya beruban, hampir merata. Wajahnya tampak kusut dan kurang terawat, tapi di balik itu ada senyum yang mengembang menyapa orang-orang asing di sekelilingnya. Begitulah kondisi wanita perkasa ini menjalani kehidupan rehabilitasinya. Clara pertama dirawat di RSSM pada 1997 atau satu tahun setelah menaklukkan Everest kemudian dirawat empat bulan kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang. Pada tahun 2000 kambuh lagi dan setelah dirawat enam bulan kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang. Tahun ini masuk ke RSSM, 30 Juni lalu dan kini kondisinya sudah stabil. Tapi belum diambil oleh keluarganya di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Selama menjadi pasien dia seringkali bercerita keberhasilannya menaklukkan Gunung Everest. Namun, ceritanya kerap diabaikan oleh perawat atau dokter karena dianggap halusinasi atau khayalan. Bahkan keluarganya sendiri juga menutup-nutupi soal informasi itu. ’’Belakangan ternyata keperkasaan Clara adalah sebuah kenyataan. Setelah Deputi Kepeloporan Pemuda, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Dr Amir Hamzah MHum, berkunjung ke rumah sakit mengenali Clara,’’ kata Dirut RSSM Djunaedi Tjakrawerdaya, kemarin. Kedatangan Tim Deputi dalam rangka penilaian Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dan Pariwisata, Poppy Safitri sebagai salah satu wakil Jateng yang maju ke tingkat nasional. Di RSSM Poppy mengajar tari pasien wanita, sehingga tim penilai melihat aktivitas pemebelajaran itu. Dan Clara adalah salah satu siswanya. Djunaedi menceritakan, saat itulah Tim Deputi mengenali sosok perempuan perkasa itu dan Clara sendiri juga mengenali mereka. Akhirnya, pihaknya benar-benar percaya, dialah wanita yang menaklukkan Everest. “Bapak, masih ingat saya nggak? Saya Carla pak, pendaki wanita Indonesia dan ASEAN pertama yang menaklukan Gunung Everest,”ucap Clara seperti ditirukan Humas RSSM, Saiful. Amir awalnya kaget ditegur Clara. Namun beberapa saat kemudian pria tersebut mengingatnya. Clara adalah wanita Indonesia pertama yang berhasil mencapai Puncak Everest pada 1996 silam. Sejak saat itu semua pihak di RSJ Soerojo, termasuk para dokter dan pejabat lainnya, mempercayai pengakuan Carla. Selama ini mereka menyangka Carla hanya mengarang cerita bahwa dirinya pernah mendaki gunung tertinggi di dunia itu. Frustasi Menurut Djunaedi, salah satu penyebab Clara mengalami stres berat karena kurangnya penghargaan dari sisi materi atas prestasi hebatnya selama ini. Pada awal masuk rumah sakit, sering marah-marah dan halusinasi. Ini diakui dokter Haryono Padmo Sudiro Spk, yang merawatnya. ’’Pemicunya antara lain dia punya prestasi mendaki Mount Everest, tetapi dia merasakan kurang dihargai oleh lingkungan. Dia tidak dihargai bahwa pernah ke sana,”ungkap Haryono. Menurut Haryono, kekesalan itu menimbulkan rasa frustasi pada diri Clara. Dokter itu menepis dugaan gangguan jiwa Clara disebabkan faktor keturunan. Tidak ada keluarga Clara mempunyai riwayat mengidap penyakit jiwa. Faktor lain bisa menjadi penyebab adalah sejumah peristiwa dalam proses pendakian Clara. Menurut Haryono, Clara mengaku sempat membuka alat pernapasan saat berada di puncak Everest. ’’Itu merupakan faktor ketegangan-ketegangan yang bisa menimbulkan orang tension atau coincident, yaitu mengalami kejadian menakutkan. Sebab kekurangan oksigen menyebabkan rasa nyeri tidak karuan,”kata Haryono. Ingatan Tajam Clara menyimpan beribu cerita kesuksesan dan dia juga menyimpan cerita kepedihan. Saat kami temui dia tampak sehat dan daya ingatnya masih tajam, karena yang sedang sakit adalah proses pikirnya dan mengalami halusinasi bukan kelemahan daya ingatan. Dia mengawali cerita mulai ketika menjadi mahasiswa di Universitas Atmajaya Jakarta jurusan Psikologi Pendidikan, justru belum tertarik dengan unit kegiatan pecinta alam. Dia malah menjadi anggota dari resimen mahasiswa (Menwa). Baru setelah lulus tahun 1990, cita-citanya menjadi guru BP harus ditanggalkan terlebih dahulu dan berganti haluannya gabung dengan ekspedisi pendakian ke puncak Annapurna IV 7.535 mdpl di Nepal. Pada tahun 1991 rekannya, Aryati, berhasil mencatatkan diri sebagai perempuan Asia pertama yang mencapai puncak tersebut. Pada Januari 1993, Clara bersama tiga pendaki putri Indonesia lainnya menaklukkan puncak Aconcagua (6.959 meter) di pegunungan Andes, Amerika Selatan. Petualangan mendaki Everest 1996 sebenarnya bukan pertama, tahun 1994 dia pernah melakukannya tapi gagal. Di tahun itu dia begabung bersama lima orang dari tim PPGAD (Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat) untuk menaklukkan gunung es itu. Tapi baru sampai diketinggian 7.000 meter karena terhadang kondisi medan sulit dan berbahaya di jalur sebelah selatan Pegunungan Himalaya (lazim disebut South Col). ’’Saya justru tertantang dengan kegagalan itu. Saya akhirnya sukses mencapai puncak pada 1996,’’ kenang Clara. Bendera merah putih yang dikibarkan di puncak mengharumkan nama bangsa ini. Dengan taruhan nyawa dia menggapai angkasa di puncak gunung es. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya mendapatkan selembar kertas penghargaan Bintang Nararya atas prestasi gemilang itu. sumber http://bedesgunung.blogspot.co.id/2015/09/wanita-asia-tenggara-pertama-penakluk.html https://id.wikipedia.org/wiki/Clara_Sumarwati http://www.kaskus.co.id/thread/52eb0c3bc0cb175b7b8b4611/clara-sumarwati-penakluk-everest--merasa-tak-dihargai-masuk-rumah-sakit-jiwa/ http://www.belantaraindonesia.org/2014/05/mengenal-clara-sumarwati-lebih-dekat.html http://nasional.kompas.com/read/2009/10/12/07150637/wanita.indonesia.pertama.pendaki.everest.dirawat.di.rumah.sakit.jiwa http://garudamiliter.blogspot.co.id/2012/04/clara-sumarwati-adalah-pendaki-sejati.html

Rabu, 23 Desember 2015

MENGENANG BU KISMI YANG PENYAYANG

Waktu ku Kecil dulu, aku merasa asing dan culun, karena aku cadel tidak lancar mengucapkan huruf R, jadi terdengar seperti L, lidah terasa kaku tidak bisa bergetar, jadi kalau berdiri di depan kelas aku suka mikir-mikir dulu. Ditambah lagi dari kecil aku kidal yaitu dominan menggunakan tangan kiri. aku teringat dengan seorang ibu guru waktu aku taman kanak-kanak namanya Bu Kismi, meski anak-anak nakal sekali tetapi beliau bersikap selayaknya ibu kandung sendiri, sabar dan penyayang. ketika aku diolok-olok teman karena cadel mengucapkan huruf R saat maju ke depan dan saat menulis menggunakan tangan kiri, Ibu Kismi memberi dukungan agar aku tidak malu dan minder, juga menasehati anak-anak lain untuk saling menghargai sesama dan tidak mengolok-olok kekurangan orang lain. Di hari Ibu ini ingin rasanya aku berterimakasih kepada Bu Kismi, Ibu yang menginspirasi anak-anak termasuk aku, untuk tidak minder alias rendah diri, karena kekurangan atau keterbatasan. Sehingga mungkin ribuan anak terselamatkan jiwanya dari sikap membully atau korban terbully. Bu Kismi entah aku tidak tahu nama panjangnya , berasal dari Jogja dia adalah adik dari Pak Supangadi guru yang bertugas di Sekolah Dasar di Desa kelahiranku, Desa Mundupesisir yang terletak di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon Jawa Barat. itulah kenapa di akta kelahiranku tertulis lahir di Mundu. Bu Kismi mengajar di TK Handayani tempat aku dan teman-temanku bermain dan belajar, teman-temanku itu antara lain yang pemberani bernama Tito , yang suka bermain bernama Iin, dan yang penyayang bernama Aceng. Pernah suatu hari aku menangis meraung-raung di kelas karena ada Iin yang membully aku , teman yang lain baik Aceng maupun Tito tidak berani menolongku, namun Ibu Kismi segera menggendongku sambil membelai rambutku dan menenangkanku dengan lemah lembut. Hatiku menjadi tenang dan kembali. Sedangkan Iin dinasehati dengan baik sehingga ia segera meminta maaf, kita kembali berbaikan. Mungkin itu yang bisa kuingat dari masa taman kanak-kanakku saat berumur 4-5 tahun. Salam hormat untukmu ibu dari kami muridmu yang pernah kau asuh dengan kasih dan sayang.

Jumat, 13 Februari 2015

Dari Friday the 13th ke Valentine Days February 14th

Friday 13th dan Valentine 14th feb, kedua-duanya berasal dari tradisi negara-negara Eropa atau lebih tepatnya Kaukasian, entah mengapa setiap tahun selalu timbul perdebatan yang menghebohkan dan muncul segala macam surat edaran atau larangan baik dari kepala daerah, kepala sekolah bahkan sampai kepala RT.

Jumat, 28 Maret 2014

Merasakan kengerian bersama "Revalina S Temat"

Brrr... Dinginnya AC Studio Liputan6.com tak menyurutkan langkahku untuk menghadiri diskusi Film Horor yang berjudul : OO..Nina Bobo.

Rasa penasaran yang timbul karena pengambilan judul yang tidak biasa. Setahu saya pribadi lagu Oo Nina Bobo itu bukan sesuatu yang menyeramkan bahkan malah menenangkan dan melenakan hingga bisa membuat tertidur. 
Lalu kenapa dalam film ini justru lagu tersebut malah membuat bulu kuduk berdiri merinding?

film ini menceritakan seorang dokter jiwa (Revalina S.Temat) yang mengambil thesis meneliti seorang anak (Firman 12th) yang mengalami PTSD (post-trhaumatic stress disorder), dimana keluarganya dibantai dan diduga meninggal karena hantu yang ada dirumahnya.

Tema cerita horror yang dibangun oleh Jose Purnomo masih membentuk "containtment" one house horor yang artinya cerita ditekankan berada dalam satu rumah atau tempat yang mereka tidak bisa keluar bebas sampe selesai menyelesaikan masalahnya. layaknya rumah kentang, conjuring atau insidious. nuansa "dark" disertai dengan latar belakang cerita yang telah universal membuat film ini bisa ditonton oleh siapa saja dan dimana saja. Meski segmen yang disasar Remaja (12-18 tahun), namun kengerian bisa membuat semuanya merinding dan menegang. 

Berbeda dengan film-film horor indonesia belakangan ini, yang lebih suka menjual fisik dari pemerannya, film ini jauh dari hal-hal seperti itu. "aku pertama kali dapet peran jadi dokter, jadi emang sulit dan banyak tantangannya dalam film ini. tapi emang seneng sih bisa dapet pengalaman baru gitu" aku Revalina. "seru banget, ini film pertama aku" imbuh dari firman yang memerankan "ryan" dalam film tersebut. "film ini horrific, bukan gore (berdarah-darah) atau sampai violent (kekerasan)" tegas om jose, sapaan akrab buat sang sutradara. yang film ini memang berbeda dengan film-film horor lainnya.

Dalam acara ini juga di tampilkan akting dari Firman ketika kejang-kejang. mengagetkan.

Pertanyaan-demi pertanyaan mengalir dan dijawab dengan lancar dan seru. diselingi joke-joke segar dari narasumber dan presenter. apalagi di sebelah saya duduk teman yang ketawanya paling keras hahaahaha. 

So apalagi yang ditunggu? Cobain kengerian bersama Revalina S.Temat dalam film :Oo Nina Bobo
 

Kamis, 27 Maret 2014

What? Kirim uang semudah kirim pulsa? Masa Sih?

Itulah berondongan pertanyaan yang ku dapat dari temanku ketika pulang dari acara DPTalk pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 yang di selenggarakan oleh Dari Perempuan.com bekerjasama dengan CIMB Niaga.

Praktis dan gak ribet yah. itulah kesimpulan dari temanku yang tukang jalan alias Backpacker, setelah panjang lebar aku jelaskan tentang "Rekening Ponsel" ini. Betapa dunia begitu mudah dan ada dalam genggaman ketika makan di warteg tidak perlu pake uang cash karena kebetulan dompet ketinggalan. hehehe.

 Rekening Ponsel atau bertransaksi dengan menggunakan nomor handphone /seluler merupakan teknologi pertama di Indonesia yang diluncurkan oleh CIMB Niaga Bank. Teknologi ini bisa menjamin kita mengirimkan / mentransfer uang ke nomor ponsel operator manapun tanpa rekening Bank. Data statistik menunjukkan bahwa jumlah nomor ponsel di Indonesia melebihi jumlah penduduknya. Wow merupakan suatu keuntungan tersendiri/ peluang bagi kita yang ada di jalur bisnis. sangat memudahkan. Tanpa biaya, tanpa batasan operator, uang bisa ditarik tunai tanpa kartu di ATM atau bisa di Alfamart. Wow laginya tanpa menyisakan uang seperak pun tidak masalah lho.   Sayang hanya satu kekurangannya karena adanya aturan BI (Bank Indonesia) maka Rekening Ponsel ini saldonya cuma bisa maksimal 5 juta Rupiah saja.
Berikut ini foto liputannyah sorry yaa kalau narsis hahaahaha


Anyway Busway kalau anda pingin tahu banyak tentang rekening Ponsel bisa melalui berbagai Layanan Rekening Ponsel yang dapat diakses melalui segala jenis perangkat mobile.

 Pengguna dapat mengakses Rekening Ponsel melalui beberapa platform yang berbeda, antara lain:

 1. Aplikasi Go Mobile (Dapat diunduh di apps store Apple iTunes, Android, Blackberry, atau melalui link https://mobile.cimbclicks.co.id/apps/ )

 2. SMS Menu (Kirim SMS 'Go Mobile' ke 1418)

 3. WebBrowser Go Mobile (melalui link: https://mobile.cimbclicks.co.id/wap)

Eitttss.. ati-ati jangan senang dulu, tetap eling dan waspada dalam bertransaksi online , ikutilah saran-saran dari Mas Prenavit dari Internet Sehat berikut ini:


 - Lindungi perangkat kita dengan anti virus

 - Jangan sebarangan pinjam punya orang lain kalau kita mau mengakses transaksi atau apapun, karena akan dengan mudah mencari history transaksi.

 - Dalam pencarian alamat situs usahakan mengetik URL dengan lengkap, jangan asal mengetik di pencarian Google karena ini akan memunculkan url yang sepertinya sama tapi menjebak, apalagi kalau url yang kita cari untuk bertransaksi.

 - Perlu diwaspadai saat kita berada di area bebas yang free wifi, karena biasanya area ini tidak menggunakan security online. Tanpa sadar bisa aja ada orang yang berniat jahat bisa melihat apa saja yang sedang kita akses, dan lebih bahaya lagi kalau kita melakukan transaksi, bisa-bisa dengan hanya mengakses wifi, nomor pasword kita disave orang yang tidak bertanggung jawab.

Senin, 17 Maret 2014

cocoklogi atau toponimi asal usul nama di Batavia-Betawi Asli (Al-Kisah)

1. Glodok. Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali Ciliwung. Orang Tionghoa dan keturunan Tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena orang Tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi. 2. Kwitang. Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si kwitang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang. 3. Senayan. Dulu daerah Senayan adalah milik seseorang yang bernama Wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut orang-orang dengan sebutan Wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atan tanah milik wangsanayan. Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan. 4. Menteng. Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan. Karena banyak pohon buah menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda maka daerah itu disebut Menteng. 5. Karet Tengsin. Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas kuningan ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal dengan nama Karet Tengsin. 6. Kebayoran. Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya "tempat penimbunan kayu bayur". Kayu bayur yang sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatanya serta tahan terhadap rayap. 7. Lebak Bulus. Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil dari kata "lebak" yang artinya lembah dan "bulus" yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak rata seperti lembah dan di kali Grogol dan kali Pesanggrahan- dua kali yang mengalir di daerah tersebut-memang terdapat banyak sekali kura-kura alias bulus. 8. Kebagusan. Nama kebagusan, daerah yang menjadi tempat hunian mantan presiden Megawati, berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak Lenang. Konon, kecantikan gadis keturunan kesultanan Banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Agar tidak mengecewakan hati pemuda itu, ia akhirnya memilih bunuh diri. Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal dengan nama ibu Bagus. 9. Ragunan. Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang di sandang tuan tanah pertama kawasan tersebut berna ma Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa. 10. Pasar Rumput. Dulu, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa mangkal di lokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman elit Menteng. Saat itu, sado adalah sarana transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian besar penduduk Menteng memelihara kuda. 11. Paal Meriam. Asal usul nama daerah yang berada di perempatan Matraman dengan Jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam Inggris yang akan menyerang Batavia, mengambil daerah itu untuk meletakan meriam yang sudah siap ditembakan. Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakat sekitar dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam disiapkan). 12. Cawang. Duku, ketika belanda berkuasa, ada seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Letnan ini bersama anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari Jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang. 13. Pondok Gede. Sekitar Tahun1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut dengan Onderneming. Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman. Karena merupakan satu-satunya bangunan besar yang ada di lokasi tersebut, bangunan itu sangat terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya "Pondok Gede" 14. Condet Batu Ampar dan Balekambang. Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memiliki beberapa orang anak. Salah satu anaknya, perempuan, di beri nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makassar pun tertarik melamarnya. Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan diatas empang, dekat kali Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Ciliwung. Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran Tenggara, dibuat jalan yang diampari (dilapisi) Batu. Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut batu ampar, dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air itu disebut Balekambang. 15. Buncit: dulunya di jalan buncit raya sekarang ada pedagang kelontong China berperut gendut (Buncit) yang terkenal. 16. Bangka: dulunya di sana banyak ditemukan mayat (bangke/bangkai) orang yang dibuang di kali krukut. 17. Cilandak: konon di sana pernah ditemukan seekor landak raksasa 18. Tegal Parang: di sana banyak ditemukan alang-alang tinggi (tegalan) yang di potong dengan parang (golok). 19. Blok A/M/S: dulunya sekitar situ tempat pembukaan perumahan baru yang ditandai dgn blok, mulai A-S. Sayang yang tersisa tinggal 3 blok doang. 20. Kampung Ambon. Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung Ambon sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon lalu merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan dari Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak itulah pemukiman tersebut dinamakan Kampung Ambon. 21. Sunda Kelapa. Sunda Kelapa merupakan sebutan sebuah pelabuhan di teluk Jakarta. Nama kelapa diambil dari berita yang terdapat dalam tulisan perjalanan Tome Pires pada tahun 1513 yang berjudul Suma Oriental. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa nama pelabuhan itu adalah Kelapa. Karena pada waktu itu wilayah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda maka kemudian pelabuhan ini disebut Sunda Kelapa. 22. Pasar Senen. Pasar Senen pertama kali dibangun oleh Justinus Vinck. Orang-orang Belanda menyebut pasar ini dengan sebutan Vinckpasser (pasar Vinck). Tetapi karena hari pada awalnya Vinckpasser dibuka hanya pada hari Senin, maka pasar itu disebut juga Pasar Senen (disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang yang lebih sering menyebut Senen ketimbang Senin). Namun seiring kemajuan dan pasar Senen semakin ramai, maka sejak tahun l766 pasar ini pun buka pada hari-hari lain. 23. Taman Anggrek. Berawal dr keinginan bu Tien untuk mengambil kebon anggrek milik juragan tanah Sunda bernama Rasman, yang dikenal orang-orang sekitar dengan nama H. Rasman karena dia memiliki tanah berhektar-hektar di Cipete. Jadi bu Tien mengambil bunga-bunga anggrek tersebut dengan niat membeli (tapi namun tidak dibayar) yang akhirnya di pindahkan ke daerah Jakarta Barat yang sekarang jadi Mall Taman Anggrek. Kemudian di pindahkan lagi ke yang sekarang semua orang ketahui ada di Taman Mini Indonesia Indah. Walaupun bunga-bunga anggreknya sudah tidak ada, namun Jl. Kebon Anggrek masih ada juga sampai sekarang. Lokasinya di Cipete (seberang SMA Cendrawasih). 24. Grogol. Grogol berasal dari bahasa Sunda (g a r o g o l) yang artinya perangkap terdiri dari tombak-tombak yang digunakan untuk menangkap hewan liar yang banyak terdapat di hutan. Nama Garogol dipasang sebagai nama sebuah desa di Limo Depok. Dahulu kawasan ini memang masih hutan liwang-liwung yang kata pak dalang "jalma mara-jalma mati" alias menyeramkan. Sudah barang tentu di kawasan ini banyak terdapat hewan liar dan buas sehingga penduduk setempat memburunya dengan memasang perangkap (garogol). Hewan yang masuk ke perangkap mirip ciptaan "geek" alias soldadu Vietnam dijamin akan mati tertembus ujung tombak yang menganga didasar lubang. Tapi belum jelas apakah jaman dulu ada keresahan masyarakat bahwa kambing mereka pada tewas karena darahnya dihisap oleh "mahluk misterius" yang sekarang kian marak di Depok. Konsekuensinya kali yang melewati desa ini juga dinamai kali Garogol. Penduduk Betawi yang main gampang saja, setiap ada desa dilalui kali ini langsung di beri stempel desa Grogol, kampung Grogol. Repotnya pada peta keluaran tahun 1903, ada kampung bernama Grogol di kawasan Pal Merah. Dari Pal Merah, kali Grogol melewati Taman Anggrek untuk menuju ke kawasan Pluit (jalan Latumeten) dan tiba pada satu daerah yang kini disebut Grogol- Negeri Tanah Tumpah Darah Anak Beta. Kalau yang memberi nama orang jaman sekarang bisa-bisa namanya "Grogol Perjuangan". Pada 1928, sebagian Kali Grogol diuruk oleh Kumpeni. Pasalnya volume air yang mengalir di banding kapasitas kali sering tidak memadai. Dan ini bisa mengancam kehidupan kastil sehingga harus dialirkan keluar kawasan kastil. Pada 1950-an kawasan Grogol menjadi populer. Karena tercatat terlanggar banjir bandang yang merendam kelurahan ini. Untuk pengendalian banjir di bangun pula waduk Grogol yang letaknya di jalan dr. Semeru (Sumeru) sekarang ini. Di tengah waduk ada air muncrat yang memang agak indah tetapi meresahkan masyarakat. Pasalnya air yang muncrat tadi kualitasnya kurang bagus sering ketika butiran air yang menjulang tinggi lalu di tiup angin pantai, maka banyak baju penduduk yang sedang dijemur tiba-tiba saja diberi tambahan noda kuning dan berbau got. Bertepatan dengan alat pompa yang sering ngadat, maka pemandangan air muncrat sudah nyaris tidak dipertunjukkan. Soal nama jalan juga unik. Nama jalan di sini mengambil nama pahlawan seperti Latumeten, Sumeru, Mawardi, Susilo. Semeru adalah nama dari Dokter Sumeru salah satu tokoh pejuang bangsa Indonesia, disamping nama Dokter Mawardi, Dr. Susilo. Lalu lidah Jawa mulai mengubahnya menjadi Semeru dan seperti keahlian bangsa ini, nama inipun di utak-atik lagi sehingga menjadi suatu statement bahwa S(u)meru adalah nama Gunung. Nama dokter Mawardi cuma kepleset sedikit menjadi dr. Muwardi. 25. Utan Kayu. Dulunya memang berbentuk hutan di samping basis prajurit Mataram mau menyerang Batavia. Hutan ini sumber kayu dari perumahan-perumahan maupun perkampungan para pengepung Batavia maupun benteng Belanda jaman dulu. Saking lebatnya hutan ini yang disertai rawa-rawa kemudian saat pembangunan daerah ini, mulai disebut Hutan Kayu yang kemudian dipersingkat menjadi Utan Kayu. Sisa kejayaan dari hutan ini masih dirasakan hingga saat ini di mana kawasan ini masih cukup hijau dan sejuk meski bukan termasuk dalam kawasan mewah seperti halnya Menteng. 26. Rawamangun. Melanjutkan cerita mengenai Utan Kayu, hutan yang sangat lebat disertai yang di dalamnya terdapat banyak rawa-rawa yang kemudian setelah masa perang dengan mataram selesai dan perluasan kota Batavia, mulai diterabas untuk pembangunan wilayah perumahan. Struktur tanah yang sifatnya rawa-rawa asalnya, membuat banyak pembangunan yang menggunakan pondasi ekstra dalam untuk wilayah ini, dan seperti halnya sifat rawa-rawa yang selalu berada di tengah hutan dan mirip halnya daerah Utan Kayu, Rawamangun juga masih relatif lebih hijau. 27. Hek. Tempat yang terletak antara Kantor Kecamatan Kramatjati dan kantor Polisi Resor Kramatjati, sekitar persimpangan dari jalan Raya Bogor ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus ke Pondokgede, dikenal dengan nama Hek. Rupanya, nama tersebut berasal dari bahasa Belanda. Menurut Kamus Umum Bahasa Belanda – Indonesia (Wojowasito 1978:269), kata hek berarti pagar. Tetapi menurut Verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenen- Endpols, 1946:388), kata hek dapat juga berarti pintu pagar ("..raam-of traliewerk…") . Dari seorang penduduk setempat yang sudah berumur lanjut, diperoleh keterangan, bahwa di tempat itu dahulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, ujung – ujungnya diruncingkan, berengsel besi besar – besar, bercat hitam. Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar – masuk kompleks peternakan sapi, yang sekelilingnya berpagar kayu bulat. Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini menjadi kompleks Pemadam Kebakaran dan Kompleks polisi Resort Kramatjati. Sampai tahun tujuh puluhan kompleks tersebut masih biasa disebut budreh, ucapan penduduk umum untuk kata boerderij, yang berarti kompleks pertanian dan atau peternakan. Kompleks peternakan tersebut merupakan salah satu bagian dari Tanah Partikelir Tanjoeng Oost, yang pada masa sebelum Perang Dunia Kedua terkenal akan hasil peternakannya, terutama susu segar untuk konsumsi orang – orang Belanda di Batavia. (Sumber: De Haan 1935: Van Diesen 1989). 28. Jalan Cengkeh. Jalan Cengkeh terletak di Kota Tua Jakarta sebelah utara Kantor Pos, di samping sebelah timur Pasar Pisang. Dahulu jaman penjajahan Belanda, Jalan itu bernama Princenstraat, tetapi umum juga disebut Jalan Batutumbuh, mungkin karena disana terdapat batu bertulis. Kawasan sekitar batu prasasti Purnawarman, di Tugu juga biasa disebut Kampung Batutumbuh. Pada tahun 1918, di dekat tikungan Jalan Cengkeh ke Jalan Kalibesar Timur, yang waktu itu bernama Groenestraat, ditemukan batu bertulis peninggalan orang – orang Portugis, yang biasa disebut padrao. Padrao itu dipancangkan oleh orang – orang Portugis, menandai tempat akan dibangun sebuah benteng, sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara Raja Sunda dengan perutusan Portugis yang dipimpin oleh Henriquez de Lemme, yang menurut Sukamto ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522. Batu bertulis itu diberi ukiran berupa lencana. Raja Immanuel. Rupanya de Leme beserta rombongannya belum mengetahui bahwa raja Portugal tersebut telah meninggal tanggal 31 Desember 1521. Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang – barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda.. Mulai saat benteng dibangun pihak Sunda akan menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan barang – barang yang dibutuhkan (Sumber: Hageman 1867: Soekamto 1956: Danasasmita 1983) 29. Japat. Japat terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Sunda Kalapa, termasuk wilayah Kelurahan Ancol Utara, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Nama kawasan tersebut berasal dari kata jaagpad. Ada yang mengatakan, kata jaagpad berarti "Jalan setapak yang biasa digunakan untuk berburu". Katanya jaag, dari jagen, artinya "berburu" Pad, artinya "jalan setapak" padahal, kata jaagpad tidak ada sangkut pautnya dengan berburu, melainkan sebuah istilah dalam pelayaran perahu. Pada alur sungai atau terusan yang dangkal, perahu yang melaluinya baru dapat bergerak maju, kalo ditarik. Pada jaman Kompeni Belanda, bahkan beberapa dasawarsa sebelum pelabuhan Tanjungpriuk dibuat, kapal – kapal (layar) yang cukup besar bila berlabuh di pelabuhan Batavia, yang sekarang menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa, tidak merapat seperti sekarang, melainkan biasa membuang sauh masih jauh dilaut lepas. Pengangkutan orang dan barang dari kapal biasa dilakukan dengan perahu. Untuk mempermudah pendaratan, di sebelah timur Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang dibuat terusan khusus untuk perahu – perahu pendarat. Terutama di musim hujan, terusan tersebut biasa menjadi dangkal, dipenuhi lumpur dari darat bercampur pasir dari laut sehingga perahu kecil pun sulit melewatinya. Apalagi perahu besar, berlunas lebar, sarat muatan, agar bisa bergerak maju harus dihela beberapa kuda atau sejumlah orang yang berjalan di depan perahu, sebelah kiri dan kanan terusan. Terusan tersebut diuruk pada abad ke- 19, sehingga sekarang sulit untuk melacaknya. Yang tersisa hanya sebutannya jaagpad yang berubah menjadi japat, sebagai nama dari kawasan tersebut. 30. Jatinegara. Jatinegara dewasa ini menjadi nama sebuah Kecamatan. Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur, salah satu pusat Kota Jakarta yang multipusat itu. Nama Jatinehara baru muncul pada kawasan tersebut, sejak tahun 1942, yaitu pada awal masa pemerintahan pendudukan balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda. Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin pembukaan hutan dikawasan itu kepada Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen, berasal dari Lontor, pulau Banda. Setelah tanah tumpah – darahnya dikuasai sepenuhnya oleh kompeni, pada tahun 1621 Senen mulai bermukim di Batavia, ditempatkan di kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkannya kepada kaum sesukunya. Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol) Sebagai guru, ia biasa dipanggil mester, yang berarti "tuan guru". Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Mester Cornelis, yang oleh orang – orang pribumi biasa disingkat menjadi Mester. Bahkan sampai dewasa ini nama itu nampaknya masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh para pengemudi angkot (angkutan kota). Kawasan hutan yang dibuka oleh Mester Cornelis Senen itu lambat laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia Belanda dibentuklah Pemerintahan Gemeente (kotapraja) Meester Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia. Kemudian, mulai tanggal 1 Januari 1936 Gemeente Meester Cornelis digabungkan dengan Gemeente Batavia. Disamping kedudukannya sebagai gemeente, pada tahun 1924 Meester Cornelis dijadikan nama kabupaten, Kabupaten Meester Cornelis, yang terbagi menjadi 4 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang (Kolonial Tidschrifft, Maart 1933:1). Pada jaman Jepang pemerintah pendudukan jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, bersetatus sebagai sebuah Siku, setingkat kewedanaan, bersama – sama dengan Penjaringan, Manggabesar, Tanjungpriuk, Tanahabang, Gambir, dan Pasar Senen. Ketika secara administrative Jakarta ditetapkan sebagai Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi kewedanaan, karena kewedanaan dipindahkan ke Matraman, dengan sebutan Kewedanaan Matraman. Jatinegara menjadi salah satu wilayah Kecamatan Pulogadung, Kewedanaan Matraman (The Liang Gie 1958:144). 31. Jatinegara Kaum. Jatinegara Kaum dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kotamadya Jakarta Timur. Disebut Jatinegara Kaum, karena di sana terdapat kaum, dalam hal ini rupanya kata kaum diambil dari bahasa Sunda, yang berarti "tempat timggal penghulu agama beserta bawahannya" (Satjadibrata, 1949:149). Sampai tahun tigapuluh abad yang lalu, penduduk Jatinegara Kaum umumnya berbahasa Sunda (Tideman 1933:10). Dahulu Jatinegara Kaum merupakan bagian dari kawasan Jatinegara yang meliputi hamper seluruh wilayah Kecamatan Pulogadung sekarang. Bahkan di wilayah Kecamatan Cakung sekarang, terdapat sebuah kelurahan yang bernama Jatinegara, yaitu Kelurahan Jatinegara. Dari mana asal nama Jatinegara serta kapan kawasan tersebut bernama demikian, belum dapat dinyatakan dengan pasti. Yang jelas nama kawasan tersebut baru disebut-sebut pada tahun 1665 dalam catatan harian (Dagh Register) Kastil Batavia, waktu diserahkan kepada Pangeran Purbaya beserta para pengikutnya. Pangeran Purbaya adalah salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang digulingkan dari tahtanya oleh putranya sendiri, Sultan Haji, dengan bantuan kompeni Belanda pada tahun 1682. Setelah tertawan, Pangeran Purbaya beserta saudara-saudaranya yang lain, seperti Pangeran Sake dan Pangeran Sangiang, ditempatkan di dalam benteng Batavia. Kemudian , ditugaskan untuk memimpin para pengikutnya, yang ditempatkan dibeberapa tempat, seperti Kebantenan, Jatinegara, Cikeas, Citeurep, Ciluwar, dan Cikalong. Orang-orang Banten yang bermukim di Jatinegara, awalnya dipimpin oleh Pangeran Sangiang. Karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Kapten Jonker, kekuasaan Pangeran Sangiang di Jatinegara ditarik kembali, dan pada tahun 1680 diserahkan kepada Kiai Aria Surawinata, mantan bupati Sampora, kesultanan Banten (T.B.G. XXX:138) yang setelah menyerah kepada kompeni diangkat menjadi Letnan, di bawah Pangeran Sangiang. Sampai tahun 1689. Surawinata masih bermukim di Luarbatang . Setelah Kiai Aria Surawinata wafat, berdasarkan putusan Pimpinan Kompeni Belanda di Batavia tertanggal 27 Oktober 1699, sebagai penggantinya adalah putranya, Mas Muhammad yang Panca wafat, sebagai penggantinya ditunjuk salah seorang putranya, Mas Ahmad. Pada waktu para bupati Kompeni diwajibkan untuk menanam kopi di wilayahnya masing – masing, penyerahan hasil pertanian itu dari tahun 1721 sampai dengan tahun 1723. tercatat atas nama Mas Panca. Baru pada tahun 1724 tercatat atas nama Mas Ahmad. Pada tahun 1740 rupanya Mas Ahmad masih menjadi bupati Jatinegara atas nama Mas Ahmad berjumlah 2.372,5 pikul, kurang lebih 14.650 kg. 32. Kebantenan. Kawasan Kebantenan, atau kebantenan, dewasa ini termasuk wilayah Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Dikenal dengan sebutan Kebantenan, karena kawasan itu sejak tahun 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang – orang Banten, dibawah pimpinan Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa. Tentang keberadaan orang – orang Banten dikawasan tersebut, sekilas dapat diterangkan sebagai berikut. Setelah Sultan Haji (Abu Nasir Abdul Qohar) mendapat bantuan kompeni yang antara lain melibatkan Kapten Jonker, Sultan Ageng Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdi – abdinya yang masih setia kepadanya.. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa mereka menyerahkan diri, Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati). Di Batavia awalnya mereka ditempatkan didalam lingkungan benteng. Kemudian Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi – abdinya diberi tempat pemukiman, yaitu di Kebantenan, Jatinegara, Condet, Citeureup, dan Cikalong. Karena dituduh terlibat dalam gerakan Kapten Jonker, Pangeran Purbaya dan adiknya. Pangeran Sake, pada tanggal 4 Mei 1716 diberangkatkan ke Srilangka, sebagai orang buangan.. Baru pada tahun 1730 kedua kakak beradik itu diizinkan kembali ke Batavia.. Pangeran Purbaya meninggal dunia di Batavia tanggal 18 Maret 1732. Perlu dikemukakan, bahwa disamping Kabantenan di Jakarta Utara itu, ada pula Kabantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah barat daya Kota Bekasi. Di salah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya yang berada di barat daya Bekasi itu ditemukan lima buah prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan jaman kerajaan Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan sejarah Jawa Barat. 33. Kampung Ambon. Merupakan penyebutan nama tempat yang ada di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP. Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen dimukimkan orang Ambon itu lalu kita kenal sebagai kampung Ambon, terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. 34. Kampung Bali. Di wilayah Propinsi DKI Jakarta terdapat beberapa kampung yang menyandang nama Kampung Bali, karena pada abad ketujuhbelas atau kedelapanbelas dijadikan pemukiman orang-orang Bali, yang masing-masing dipimpin kelompok etnisnya. Untuk membedakan satu sama lainnya, dewasa ini biasa dilengkapi dengan nama kawasan tertentu yang berdekatan, yang cukup banyak dikenal. Seperti Kampung Bali dekat Jatinegara yang dulu bernama Meester Corornelis, disebut Balimester, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur. Balimester tercatat sebagai perkampungan orang-orang Bali sejak tahun 1667. Kampung Bali Krukut, terletak di sebelah barat Jalan Gajahmada sekarang yang dahulu bernama Molenvliet West. Di sebelah selatan, perkampungan itu berbatasan dengan tanah milik Gubernur Reineir de Klerk (1777 – 1780), dimana dibangun sebuah gedung peristirahatan, yang dewasa ini dijadikan Gedung Arsip Nasional. Kampung Bali Angke sekarang menjadi kelurahan Angke, Kecamatan Tambora Jakarta Barat. Di sana terdapat sebuah masjid tua, yang menurut prasasti yang terdapat di dalamnya, dibangun pada 25 Sya'ban 1174 atau 2 April 1761. Dihalaman depan masjid itu terdapat kuburan antara lain makam Pangeran Syarif Hamid dari Pontianak yang riwayat hidupnya ditulis di Koran Javabode tanggal 17 Juli 1858. Dewasa ini mesjid tersebut biasa disebut Masjid Al- Anwar atau Masjid Angke. Pada tahun 1709 di kawasan itu mulai pula bermukim orang – orang Bali di bawah pimpinan Gusti Ketut Badulu, yang pemukimannya berseberangan dengan pemukiman orang – orang Bugis di sebelah utara Bacherachtsgrach, atau Jalan Pangeran Tubagus Angke sekarang . Perkumpulan itu dahulu dikenal dengan sebutan Kampung Gusti (Bahan: De Haan 1935,(I), (II):Van Diesen 1989). 35. Kampung Bandan. Merupakan penyebutan nama Kampung yang berada dekat pelabuhan Sunda Kelapa atau masih dalam Kawasan Kota Lama Jakarta (Batavia) Berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan terdapat beberapa versi asal – usul nama Kampung Bandan. 1. Bandan berasal dari kata Banda yang berarti nama pulau yang ada di daerah Maluku. Kemungkinan besar pada masa lalu ( periode kota Batavia) daerah ini pernah dihuni oleh masyarakat yang berasal dari Banda. Penyebutan ini sangatlah lazim karena untuk kasus lain ada kemiripannya, seperti penyebutan nama kampung Cina disebut Pecinan. Tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean dan Pekojan sebagai perkampungan orang Koja (arab), dan lain-lain. 2. Banda berasal dari kata Banda ( bahasa Jawa) yang berarti ikatan Kata Banda dengan tambahan awalan di (dibanda) mempunyai arti pasif yaitu diikat. Hal ini dapat dihubungkan dengan adanya peristiwa yang sering dilihat masyarakat pada periode Jepang, yaitu pasukan Jepang membawa pemberontak dengan tangan terikat melewati kampung ini menuju Ancol untuk dilakukan eksekusi bagi pemberontak tersebut.. 3. Banda merupakan perubahan ucapan dari kataPandan. Pada masa lalu di kampung ini banyak tumbuh pohon, sehingga masyarakat menyebutnya dengan nama Kampung Pandan